Blog

Udang Rebon dari Cirebon

Rebon atau yang dalam bahasa ilmiahnya di kenal dengan sebutan Acetes sp. sudah menjadi barang yang langka saat ini. Rebon atau Alamang (dalam bahasa Pilipina) atau Geragau (dalam bahasa Melayu) ini sudah sangat populer digunakan sebagai bahan pembuatan terasi atau shrimp paste atau belacan.

Nama Rebon ini pula yang menjadi dasar pengambilan nama daerah Cirebon di Jawa Barat, yang dapat diartikan Air Rebon (Cai = Air dalam bahasa Sunda). Sehingga dulu Cirebon dikenal dengan kota udang.

Dalam 2 tahun terakhir ini, musim rebon sudah tidak beraturan alias tidak bisa di prediksi seperti biasanya. Selain faktor cuaca laut yang tidak menentu, menyebabkan permintaan pasar dan penjualan rebon tidak ketemu di waktu yang tepat.

Menurut informasi dari para nelayan yang menjadi rekanan kami, dalam setiap tahunnya, musim rebon biasanya terjadi selama 3-4 bulan, dan dimulai di bulan Januari-Februari. Dan ketika musim panen rebon terjadi, hampir di semua wilayah pantai Utara Jawa mengalami puncak panennya.

Dan pada saat panen itu, hasil tangkapan rebon yang bisa di dapatkan antara 10-20 Ton per kelompok nelayannya (perkiraan ada lebih dari 30 kelompok nelayan yang khusus menangkap rebon di sepanjang Pantai Utara Jawa ini, dari ujung barat Pulau Jawa hingga ujung timur Pulau Jawa).

Oleh karena itu, Kami coba menampung semua hasil tangkapan rebon di wilayah Pantai Utara Pulau Jawa. Proses yang kami lakukan mulai dari penjemuran dan pembekuan udang rebon.
Hasil rebon yang dikeringkan (dried shrimp) biasa dijual ke pasar, sementara rebon yang di bekukan (frozen shrimp) dapat digunakan sebagai stok bahan pembuatan terasi.

Hasil tangkapan rebon
Hasil tangkapan rebon

Meskipun populasi rebon sudah semakin menipis di wilayah Pantura, semoga Cirebon tetap dikenal sebagai kota udang dan industri terasi tetap ada tak lekang oleh zaman.

WhatsApp chat