Blog

22 tahun tidak suka makan sambel dan sayur, saya berubah karena ini

Asli nya saya termasuk orang yang enggak suka makan sambel, apalagi sambel terasi. Karena sambel terasi yang saya kenal dari waktu saya masih kecil di daerah Sumedang yaitu sambel terasi yang warna nya merah, dan bau nya juga tajam. Sekalipun orang tua, bibi paman dan keluarga besar saya suka sekali dengan lalapan dan sambal terasi, tapi dari usia 7 tahun sampai 22 tahun saya hampir tidak pernah makan sambal terasi. Kalau pun ada, itu biasanya “terpaksa” atau “dipaksa”…huff…saat itu makan sambal terasi seperti tersiksa…

Tidak Suka Sambal Terasi

Dan yang paling tidak saya suka dari terasi yang di jual di daerah Jawa Barat, karena saya juga punya saudara yang tinggal di kota Bandung, Garut, Tasikmalaya, Depok dan di Jawa Barat lainnya, adalah warna terasinya yang merah. Sampai-sampai “coet” atau tempat ulekan sambal di rumah saya warna nya merah dan bau terasinya tetap tercium sekalipun sudah dicuci berulang kali. Bau nya menempel.

Namun semua berubah ketika saya mulai belajar hidup merantau kuliah di Kota Bandung. Kecintaan saya pada sambal terasi terjadi ketika pertama kali makan pecel lele di tenda kaki lima yang banyak tersebar di sekitaran kampus. Rasanya yang maknyus, sedap, sambalnya juga tidak berwarna merah seperti halnya sambal terasi yang saya kenal dari kecil. Dan saat itu pula awalnya saya seperti di hipnotis untuk mau makan daun kemangi, tomat, dan sayuran yang di hidangkan di warung pecel lele sembari di “cocol” ke sambel terasinya. Yummy. …. Setelah hampir 20 tahunan saya tidak pernah berani makan sayuran apalagi sambel terasi…Mulai saat itulah saya mulai suka sambal terasi.

Dan ternyata bukan sembarang sambal terasi yang membuat saya tertarik melahap sayuran itu semua. Setelah saya telusuri ternyata memang terasi yang di gunakan SANGAT berbeda dengan terasi yang selama ini biasa digunakan oleh keluarga dan orang-orang di sekitar saya dulu. Terasinya tidak berwarna merah, dan juga terasinya tidak berbau tajam menusuk hidung. Puff…bau terasinya tidak menusuk seperti terasi yang saya tau. Terasi apa sih yang dipakai oleh tukang pecel lele enak ini?

Seiring waktu, hingga akhirnya takdir mempertemukan saya dengan jodoh saya (cieee…!) dari Cirebon. Singkat cerita, dikarenakan istri saya pintar memasak dan membuat sambel terasi, akhirnya saya tau resep rahasia terasi yang digunakan warung pecel lele langganan saya dulu waktu kuliah di Bandung. Terasi yang sering digunakan istri saya persis sama dengan terasi yang digunakan warung pecel lele langganan saya. Terasi yang enak ini warnanya cenderung gelap, baunya juga sedap, tidak menyengat seperti halnya terasi merah yang banyak beredar di Bandung, Sumedang, Garut dan kota lain yang pernah saya tau.

Terasi Udang yang ternyata warna nya gelap ini berasal dari Cirebon. Tidak heran kalau banyak orang bilang terasi Cirebon adalah terasi yang paling enak. Selain itu, Terasi ini juga masih di produksi dengan cara tradisional, sehingga tak heran cita rasa nya masih tetap dipertahankan khas Cirebon. Namun dikarenakan tidak adanya terasi cirebon yang dikemas modern, siap pakai dalam kemasan kecil, seperti halnya terasi buatan pabrik pabrik besar yang banyak dijual di warung-warung, jadi terasi udang yang lezat ini hanya dapat dijual di sekitaran cirebon dalam kemasan yang yang masih kurang higienis dan kurang rapi.

Sangat di sayangkan jika terasi yang lezat tanpa pengawet dan pewarna ini belum bisa di jual ke Sumedang, Bandung, dan daerah Jawa Barat lainnya. Terlebih kemasannya yang masih ala kadarnya, dan juga ukurannya yang besar sangat tidak praktis sekali pakai. Sangat berbeda dengan terasi buatan pabrik besar yang praktis dan dikemas dengan sangat rapi, sekalipun rasanya dan warna nya jauh berbeda dengan terasi cirebon ini. Tak heran jika setiap kali saya mudik ke Cirebon, keluarga di Sumedang atau saudara di kota lainnya seringkali minta dibawakan oleh-oleh terasi khas Cirebon.

WhatsApp chat